Doa Qunut Menurut Hadist dan Macam-Macamnya

Doa qunut juga merupakan salah satu amalan dalam shalat yang
diperdebatkan. Letak persoalannya adalah apakah doa qunut itu ada pada
shalat tertentu serta dilakukan selamanya dan melekatnya sebagai sunnah,
ataukah ia dapat dilaksanakan kapan pun, asalkan ada alasan untuk
melakukannya. Dalam hal ini ada beberapa pendapat sebagai berikut:

A. Qunut Dilakukan Hanya Untuk Mendo’akan Suatu Kaum Yang Terkena Mushibah (Qunut Nazilah)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata,

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama sebulan
secara berturut-turut pada waktu shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan
Shubuh, di ujung semua shalat. Ketika beliau mengucapkan ‘sami’allahu
liman hamidah’ pada raka’at yang terakhir beliau berdoa untuk mengutuk
perkampungan Bani Salim, juga untuk suku Ri’l, Dzakwan dan Ushayyah.
Sedangkan makmumnya mengamininya.
” (HR. Ibnu Khuzaimah, shahih)

Adapun alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutuk
suku-suku tersebut adalah karena mereka telah membunuh banyak kaum
muslimin pada peristiwa bi’ru ma’unah, seperti disebut dalam hadits
berikut:

Dari Anas bin Malik, ia berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a atas orang-orang
yang mati syahid dalam tragedi “Bi’ru Maunah” dalam waktu tiga puluh
kali shalat Shubuh. Beliau mengutuk kaum Ri’l, Dzakwan, Lihyan dan
Ushayyah yang telah berbuat durhaka kepada Allah dan Rasulnya.
” (HR. Muslim)

Qunut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berlangsung
terus-menerus selama hidup beliau, melainkan ketika yang diharapkan
sudah terwujud beliau menghentikannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

Dari Abu Hurairah,

Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
melakukan Qunut kecuali untuk mendoakan seseorang atau melaknat
seseorang.
” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Berdasarkan hadits-hadits di atas, maka sebagian ulama mengatakan
bahwa doa Qunut hanya dilakukan jika ada sebab, dan dilakukan pada
setiap shalat, tidak khusus pada shalat Shubuh saja. Di antara ulama
yang berpendapat demikian adalah Abu Hanifah dan ulama-ulama Kuffah.
Baik Abu Hanifah maupun ulama Kuffah melarang melakukan Qunut pada
shalat Shubuh.

Jika Qunut dilaksanakan untuk mendoakan atau melaknat suatu kaum yang
maksiat kepada Allah, maka boleh dilakukan kapan saja. Qunut ini
dilakukan sepanjang ada persoalan, setelah persoalannya selesai (tidak
ada) maka qunut tidak dilakukan lagi.

  • Do’a Qunut Nazilah

Do’a Qunut Nazilah redaksinya disesuaikan dengan kejadiannya, dapat
berupa do’a keselamatan bagi orang yang tertindas ataupun kecaman
terhadap orang-orang yang zalim, seperti do’a Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berikut:

Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin A1-Walid, Salmah bin
Hisyam, lyas bin Abi Rabiah serta orang-orang lemah dari kaum mukminin.
Ya Allah kuatkanlah cengkeraman-Mu atas kaum Madhar dan turunkanlah
malapetaka atas mereka seperti malapetaka pada zaman Yusuf. Ya Allah
laknatlah suku Lihyan, Ri’il, Zakwan dan Ushayyah yang telah durhaka
kepada Allah dan Rasulnya.
” (HR. Muttafaq `alaih)

B. Qunut Shalat Shubuh

Al-Hazaimi dalam kitabnya Al-I’tibar berkata bahwa kebanyakan sahabat,
bahkan sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali
melakukan Qunut, begitu juga tabiin dan orang-orang sesudahnya terutama
ulama Mesir menetapkan adanya doa qunut dalam shalat Shubuh. Dasarnya
ialah:

Dari Ibnu Abbas, ia berkata,

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut selama sebulan
secara berturut-turut pada waktu shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan
Shubuh, di ujung semua shalat. Ketika beliau mengucapkan ‘sami’allahu
liman hamidah’ pada raka’at yang terakhir beliau berdo’a untuk mengutuk
perkampungan Bani Salim, juga untuk suku Ri’l, Dzakwan dan Ushayyah.
Sedangkan makmumnya mengamininya.
(HR. Ibnu Khuzaimah, shahih).

Menurut Imam Syafi’i, sungguhpun ada hadits yang menyatakan bahwa
setelah persoalan itu selesai Nabi meninggalkan qunut, tetapi yang perlu
dicatat adalah, tidak ada persaksian bahwa Nabi meninggalkan qunut di
waktu Subuh. Hal ini diperkuat juga oleh Hadits Anas bin Malik
radhiyallahu anhu berikut:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu,

Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan
Qunut selama sebulan, beliau mengutuk mereka (kaum yang zalim), kemudian
Nabi meninggalkannya. Adapun pada waktu shalat Shubuh Nabi tetap
melakukannya sampai beliau wafat.
” (HR. Baihaqi)

Bahkan kata Imam Syafi’i, adanya Qunut dalam shalat Shubuh itu berdasarkan hadits yang kuat, yaitu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan
Qunut pada waktu shalat Shubuh. Maka beliau berdo’a, “Ya Allah
selamatkan Walid bin Al-Walid, Salmah bin Hisyam dan Iyasy bin Abi
Rabiah.
” (HR. Syafi’i dalam kitab Al-Umm)

  • Do’a Qunut Shalat Shubuh

Pada dasarnya do’a qunut itu disesuaikan dengan maksud dan tujuannya.
Sehingga qunut shubuh dengan do’a qunut nazilah pun tidak menjadi
masalah, asalkan do’a tersebut sesuai dengan kejadian yang sedang
terjadi.

Persoalannya, bagaimanakah do’a qunut pada waktu shalat Shubuh manakala tidak ada kejadian yang perlu dido’akan atau dilaknat.
Dalam hal ini do’anya sebagai berikut:

1. Qunut Umar bin Khattab

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, beliau qunut dengan membaca:

“ALLAAHUMMA INNAA NASTA’IINUKA WA NASTAKH FIRUKA WA NUSNII ‘ALAIKAL
KHAIRA NASKURUKA WA LAA NAKFURUKA WA NAKHLA’U WA NATRUKA MAN YAFJURUKA.
ALLAAHUMMA INNAAKA NA’BUDU WA LAKA NUSHALLII WA NASJUDU WA ILAIKA NAS’A
WA NAHFADU NARJUU RAHMATAKA WA NAKHSYA ‘ADZAABAKA INNA ‘ADZAABAKA
BALKUFFAARI MULHAQ.”

[Artinya]: “Ya Allah! Sesungguhnya kami mohon pertolongan
kepadamu, mohon ampun kepadamu, mohon kebaikan kepadamu, kami bersyukur
kepadamu, dan kami tidak mengingkari-Mu, dan kami melepaskan dan
meninggalkan orang yang durhaka kepada-Mu. Ya Allah! Hanya kepada-Mu
kami menyembah, dan hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud. Hanya
kepada-Mu kami berusaha dan bersegera. Kami mohon rahmat-Mu dan kami
takut siksa-Mu. Sesungguhnya siksa-Mu terhadap orang-orang kafir adalah
suatu keniscayaan.
” (Al-Umm, juz VII, h. 141)

2. Qunut Al-Hasan Putra Ali bin Abi Thalib
Dari Hasan bin Ali,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku do’a, yang
selalu dibaca oleh ayahku pada waktu shalat Shubuh, sebagai berikut:


“ALLAAHUMMAHDINII FIIMAN HADAIIT. WA‘AAFINII FIIMAN ‘AAFAIT. WA
TAWALLANII FIIMAN TAWALLAIT. WA BAARIKLII FIIMAN A’THAIT. WA QIINI
SYARRAMAA QADHAIT. INNAKA TAQDHII WALAA YUQDHAA ‘ALAIK. INNAHUU LAA
YADZILLU MAN WAALAIT. TABAARAKTA RABBANAA WA TA’AALAIT.”

[Artinya]: “Ya Allah! Tunjukkilah aku pada jalan orang-orang yang
telah Engkau beri petunjuk. Sehatkanlah aku sebagaimana Engkau telah
memberi kesehatan kepada orang yang sehat. Berikanlah aku kekuasaan
sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan. Berikanlah aku
berkah di dalam apa saja yang telah Engkau berikan. Selamatkanlah aku
dari kejelekan sesuatu yang telah Engkau jadikan. Sesungguhnya
Engkau-lah yang menentukan, bukan ditentukan. Dan sesungguhnya tidak
akan terhina orang yang Engkau tolong.
” (HR. Baihaqi)

Catatan:
Do’a Qunut ini dalam riwayat-riwayat yang lain berkaitan dengan qunut dalam shalat witir.

 

C. Qunut Witir

Adanya do’a qunut dalam shalat witir tertuang dalam banyak hadits, di antaranya:

Dari Ubai bin Kaab,

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat witir, kemudian beliau melakukan qunut sebelum ruku’.” (HR. An-Nasa’i, Ad-Daruqutni dan Ibnu Majah)

Hadits di atas juga didukung oleh hadits yang menjelaskan do’a yang
dibaca Rasulullah ketika doa Qunut dalam shalat witir, yang akan
disebutkan nanti.

  • Waktu Qunut Witir

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu qunut witir, apakah sepanjang tahun atau hanya waktu-waktu tertentu saja.

Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa qunut Witir hanya dilakukan
pada pertengahan akhir bulan Ramadhan. Pendapat ini berdasarkan praktik
yang dilakukan Ali bin Abi Thalib:

Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib tidak melakukan qunut dalam
shalat witir kecuali pada pertengahan akhir bulan Ramadhan dan beliau
qunut setelah ruku’
.” (HR. At-Tirmidzi)

Sedangkan menurut ulama Kuffah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak,
Ishak dan para ulama dari kalangan rasionalis berpendapat bahwa Qunut
Witir dilakukan sepanjang tahun dan dilakukan sebelum ruku’. Hal ini
berdasarkan amalan Ibnu Mas’ud. Juga berdasarkan hadits-hadits yang
menerangkan bacaan qunut dalam witir tidak dikaitkan dengan waktu.

D. Tempat Melakukan Do’a Qunut

  • Sebelum Ruku’

    Imam Malik berpendapat bahwa qunut dilakukan sebelum ruku’, hal ini berdasarkan hadits berikut:

Dari Ashim, ia berkata,

Saya bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu anhu tentang qunut
sebelum ruku atau sesudahnya, ia menjawab: sebelum ruku’. Saya berkata,
`Sesungguhnya seseorang memberitahuku dari engkau bahwa qunut itu
setelah ruku. Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Dia bohong,
sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut setelah ruku
hanya sebulan
.”‘ (HR. Bukhari)

Demikian juga hadits:

Dari Ubai bin Kaab,

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam qunut sebelum ruku’.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, hadits shahih)

Di antara para ulama yang juga berpendapat bahwa qunut itu dilakukan
sebelum ruku adalah Ulama Kuffah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, Ishak
dan para ulama dari kalangan rasionalis.

  • Setelah Ruku’

    Imam Syafii, berpendapat bahwa qunut itu dilakukan setelah ruku’. Hal ini berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
bangkit dari ruku’ pada raka’at terakhir shalat subuh, beliau melakukan
Qunut.
” (Menurut Ahmad bin All al-Magrizi, dalam kitab “Muhtatshar Kitab AI-Witr” juz I, h. 131, hadits ini sanadnya shahih)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan melalui sanad Abu Hurairah juga disebutkan:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ingin
mendo’akan atau melaknat seseorang beliau melakukan Qunut setelah ruku’.
” (HR. Ad-Darimi)

  • Boleh Sebelum Atau Setelah Ruku’

    Dalam tinjauan Imam Ibnu Hajar Al-Atsqalani kedua pendapat di atas
    sama-sama kuatnya, maka ia mengkompromikan dua hal tersebut dengan
    mengatakan:

Berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dapat
disimpulkan bahwa Qunut yang disebabkan keperluan yang mendesak
(nazilah, pen) dilakukan setelah ruku’, sedangkan selain qunut nazilah
dilakukan sebelum ruku.

Bahkan para sahabat pun berbeda dalam praktek qunut, tetapi yang jelas perbedaan ini bukan pada wilayah yang terlarang.

Rich Snippets
Published
Article
Doa qunut menurut hadist dan macam-macamnya
Ratings
51star1star1star1star1star
Faisal Habib

Kata Bijak? Google banyak!

You may also like...

Leave a Reply